Archive for December, 2012

Blunder Penipu

Posted: December 17, 2012 in Sekilas Penipuan
Tags:

Sebagaimana pemain bola profesional yang kadang-kadang melakukan blunder di sekitar pertahanan sendiri yang mengakibatkan lawan dapat mencetak gol. Demikian juga halnya penipu profesional atau penipu ulung, kadang-kadang juga melakukan blunder karena nama yang digunakan cukup banyak, sehingga dia tak hapal di antara nama tersebut sudah pernah digunakan untuk menipu orang lain. Sebagai contoh ada penipu yang mengirim SMS yang bunyinya sebagai berikut :

“SELAMAT, anda men-dpt Hadiah tabungan Haji Cek Rp. 100 jt dr, PT. SIDOMUNCUL, diundi td mlm di SCTV Pin XXXX Info, hub/call : 082373437111 IR. H. DARMAWAN”

Sebelumnya penipu ini juga pernah mengirimkan SMS yang berbunyi :

“SELAMAT, anda men-dpt Hadiah tabungan Haji Cek Rp. 100 jt dr, PT. SIDOMUNCUL, diundi td mlm di RCTI Pin XXXX Info, hub/call : 082373437111 IR. SETIAWAN”

Blunder yang dilakukan penipu ini adalah nomor yang digunakan sama yaitu 082373437111 dengan nama yang berbeda yaitu IR. H DARMAWAN dan IR. SETIAWAN.  Kedua nama ini pun sudah jelas palsu. Mungkin di SMS lain dia akan gunakan nama SUGIONO, IR. IRAWAN, H. HENDRA, IR. FARID dll. Penipu ini konon memiliki nama palsu dan nomor rekening sampai 100 orang.

Ada saya baca kisah korban penipuan di intenet berkaitan dengan pembelian blackberry.  Saya memang perihatin terhadap kasus yang menimpanya tapi sekaligus gregetan melihat ketololannya yang melampaui batas.  Sebut saja nama korban ini dengan si A. Si A ini tertarik untuk membeli Blackbery murah yang dilihat dari salah satu situs di internet (padahal modus penipuan dengan penawaran harga miring sudah sering terjadi dan diberitakan media massa). Si A ini kemudian memesan salah satu blackberry kepada penipu dengan harga Rp. 2 juta. Sesuai kesepakatan barang dikirim setelah si A membayar dp 50% dari harga barang Rp. 1 juta. Kemudian si A mentransfer uang muka Rp. 1 juta pada penipu. Besok kemudian menelepon bahwa barang sudah dikirim tapi yang dikirim ada 3 unit bukan satu unit  dan menyuruh si A untuk mentransfer minimal 2 juta lagi sebagai jaminan (disini saja sudah kelihatan unsur penipuan).  Seharusnya pada titik ini korban sudah wajib  curiga dan berpikir secara logika. Meskipun barang terlanjur dikirim 3 unit, toh kurir  sipenipu bisa mengirimkan satu saja pada si A untuk apa sampai membayar jaminan (sudah jelas si penipu mau menipu).  Pada titik ini seharusnya tidak perlu transfer. Jika memang sudah tertipu, ikhlaskanlah uang anda.  Dasar tolol…meskipun sudah curiga tapi si A ini tetap mentransfer uang jaminan ke rekening sipenipu sebesar Rp. 2 juta. Setelah mentransfer Rp. 2 juta, tiba-tiba si penipu bilang pada si A bahwa barang yang dikirim ditahan oleh pihak bea cukai (kok kebetulan sekali) dan harus menebus barang Rp. 3 juta (disini pun sudah kelihatan tak beres perilaku si penipu). Pada titik ini pun si A seharusnya tidak perlu lagi transfer karena alasan penipu sudah tak masuk akal. Dasar tololnya ketulungan, si A tetap mentransfer dana Rp. 3 juta pada si penipu. Setelah mentransfer Rp. 3 juta, si penipu meminta tambahan dana lagi Rp. 3 juta untuk mengurus kelengkapan surat-surat di bea cukai (makin tak masuk akan si penipu).  Eh..ternyata si A masih saja menuruti kemauan si penipu dengan mentransfer dana Rp. 3 juta lagi ke penipu tersebut.  Itulah sebabnya saya mengatakan si A ini korban penipuan paling tolol sedunia. Siapapun membaca kisahnya sangat geregetan dan gemes dengannya. Meskipun juga perihatin.

Mohon maaf pada pembaca yang kisahnya mirip dengan kejadian di atas. Cerita ini ditulis agar kejadian seperti itu tidak perlu terulang lagi. Jangan pernah tertarik dengan blackberry dengan harga murah. Belilah blackbery dengan harga resmi di toko terdekat meskipun lebih mahal tapi aman.

Anda ingin tahu ciri-ciri penipu?? Inilah ciri-cirinya :

  1. Menjanjikan keuntungan yang tidak masuk akal. Misalnya tingkat suku bank hanya 1 % per bulan. Penipu menjanjikan keuntungan sampai 25% per bulan.
  2. Menawarkan harga barang atau tiket pesawat sangat murah. Jauh dari harga pasaran.
  3. Mengatakan anda mendapatkan hadiah, padahal anda tak pernah ikut undian apapun.
  4. Mengatakan keluarga anda kecelakaan dan langsung minta transfer untuk biaya operasi. Rumah sakit yang benar tidak akan pernah langsung minta transfer tapi anda akan disuruh ke rumah sakit terlebih dahulu, jika keluarga anda kecelakaan.
  5. Mengirim SMS yang mengatakan tertarik untuk membeli rumah, tanah, mobil, dan motor, padahal anda tidak pernah membuat iklan apapun di media massa.
  6. Mengirim SMS tentang penawaran berbagai macam produk. Perusahaan yang benar tidak akan pernah mengirim SMS murahan kepada masyarakat tentang penawaran produk.

Inilah ciri-ciri penipu sehingga anda dapat memahami dan tidak tertipu.

Aspek Hukum Pembuktian Tindak Pidana Penipuan Melalui Media Elektronika, klik disini 

Petugas kepolisian kembali membongkar modus penipuan melalui pesan singkat atau SMS. Dari kasus ini, Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok telah mengamankan 6 pelaku dari jaringan modus penipuan tersebut.

Berdasarkan laporan warga pada, Selasa (4/12) Polres Pelabuhan Tanjung Priok menerima laporan polisi dari Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) tentang terjadinya penipuan melalui SMS dengan korbannya yakni Riswal Alwi.

“Kejahatan ini merupakan bagian yang sering dialami masyarakat, dengan modus operandi penipuan melalui SMS. Mereka menawarkan promosi murahnya harga tiket, sewa rumah (kontrakan), atau dengan meminta pulsa,” kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Asep Adisaputra, kepada wartawan, di Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (13/12).

Setelah dilakukan penyelidikan dan kerjasama dengan beberapa provider telekomunikasi nasional. Ditemukan para tersangka yang berjumlah enam orang tersebut berhasil diringkus petugas di sebuah rumah kontrakan di daerah Parigi, Sawangan Depok.

“Berhasil ditahan para tersangka bernama AE, ST, MY, FN, AR, dan AH pada hari Rabu (12/12) di sebuah rumah kontrakan di Parigi, Sawangan, Depok. AE dan ST diketahui sebagai suami istri yang telah memiliki 3 anak,” ungkap Asep.

Dari modus jaringan tersebut mereka menjerat korbannya secara acak menggunakan alat eletronik yang dikendalikan dari tempat mereka berkumpul.

“Karena acak ratusan yang menjadi korban secara langsung. Hasil penipuan mereka bisa beli alat-alat elektronik seperti ini. Dikendalikan di daerah Depok, dia mengakui baru 2 bulan, tapi melihat perlengkapan mereka, kita dalami,” imbuh Asep.

Dari perbuatan para tersangka, polisi pun menjerat pasal berlapis dari kasus tersebut.”Mereka akan dikenakan pasal 378 KUHP tentang penipuan, dan pasal 45 jo 28 (1) no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dengan ancaman 6 tahun penjara,” tutupnya.

Dari barang bukti yang berhasil disita polisi mengamankan 5 unit Laptop, 12 buah handphone, 7 port USB, 2 flash disk, 49 modem, 4 kipas pendingin modem, 1 unit mobil Suzuki Baleno Silver bernomor polisi B 1134 UU, 1 unit sepeda motor Yamaha Bison bernomor polisi B 6878 EYK, 5 buku tabungan, 19 kartu ATM, uang tunai sejumlah Rp 5.550.000, dan 300 kartu prabayar berbagai provider.

Pasal 378 merumuskan sebagai berikut :

“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum , dengan memakai nama palsu atau martabat palsu; dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.”

Rumusan penipuan tersebut terdiri dari unsur-unsur objektif yang meliputi perbuatan (menggerakkan), yang digerakkan (orang), perbuatan itu ditujukan pada orang lain (menyerahkan benda, memberi hutang, dan menghapuskan piutang), dan cara melakukan perbuatan menggerakkan dengan memakai nama palsu, memakai tipu muslihat, memakai martabat palsu, dan memakai rangkaian kebohongan. Selanjutnya adalah unsur­unsur subjektif yang meliputi maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dan maksud melawan hukum.

1. Perbuatan menggerakkan (Bewegen). 

Kata bewegen selain diterjemahkan dengan menggerakkan, ada juga sebagian ahli dengan menggunakan istilah membujuk atau menggerakkan hati. KUHP sendiri tidak memberikan keterangan apapun tentang istilah bewegen itu. Menggerakkan dapat didefinisikan sebagai perbuatan mempengaruhi atau menanamkan pengaruh pada orang lain. Objek yang dipengaruhi adalah kehendak seseorang. Perbuatan menggerakkan adalah berupa perbuatan yang abstrak, dan akan terlihat bentuknya secara konkret bila dihubungkan dengan cara melakukannya. Cara melakukannya inilah sesungguhnya yang lebih berbentuk, yang bisa dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang benar dan dengan perbuatan yang tidak benar. Dengan perbuatan yang benar, misalnya dalam pasal 55 (1) KUHP membujuk atau menganjurkan untuk melakukan tindak pidana dengan cara: memberikan atau menjanjikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan dan lain sebagainya. Sedangkan di dalam penipuan, menggerakkan adalah dengan cara-cara yang di dalamnya mengandung ketidakbenaran, palsu dan bersifat membohongi atau menipu. Mengapa menggerakkan pada penipuan ini harus dengan cara-cara yang palsu dan bersifat membohongi atau tidak benar? Karena kalau menggerakkan dilakukan dengan cara yang sesungguhnya, cara yang benar dan tidak palsu, maka tidak mungkin kehendak orang lain (korban) akan menjadi terpengaruh, yang pada akhirnya ia menyerahkan benda, memberi hutang maupun menghapuskan piutang. Tujuan yang ingin dicapai petindak dalam penipuan hanya mungkin bisa dicapai dengan melalui perbuatan menggerakkan yang menggunakan cara-cara yang tidak benar demikian.Yang digerakkan adalah orang. Pada umumnya orang yang menyerahkan benda, orang yang memberi hutang dan orang yang menghapuskan piutang sebagai korban penipuan adalah orang yang digerakkan itu sendiri. Tetapi hal itu bukan merupakan keharusan, karena dalam rumusan pasal 378 tidak sedikitpun menunjukkan bahwa orang yang menyerahkan benda, memberi hutang maupun menghapuskan piutang adalah harus orang yang digerakkan. Orang yang menyerahkan benda, memberi hutang maupun menghapuskan piutang bisa juga oleh selain yang digerakkan, asalkan orang lain (pihak ketiga) menyerahkan benda itu atas perintah/kehendak orang yang digerakkan. Artinya penyerahan benda itu dapat dilakukan dengan perantaraan orang lain selain orang yang digerakkan. Kepada siapa barang diserahkan, atau untuk kepentingan siapa diberinya hutang atau dihapusnya piutang, tidak perlu harus kepada atau bagi kepentingan orang yang menggerakkan/petindak. Penyerahan benda dapat dilakukan kepada orang lain selain yang menggerakkan, asalkan perantaraan ini adalah orang yang dikehendaki petindak. Untuk ini ada arrest HR (24-7-1928) yang menyatakan bahwa “penyerahan merupakan unsur yang konstitutif dari kejahatan ini dan tidak perlu bahwa penyerahan dilakukan pada pelaku sendiri”. Dari unsur maksud menguntungkan yang ditujukan dalam 2 hal, yaitu diri sendiri atau orang lain, maka dapat dipastikan bahwa dalam penipuan bukan saja untuk kepentingan petindak semata-mata melainkan dapat juga untuk kepentingan orang lain.

2. Tujuan perbuatan. 

a. Menyerahkan benda :

Pengertian benda dalam penipuan mempunyai arti yang sama dengan benda dalam pencurian dan penggelapan, yakni sebagai benda yang berwujud dan bergerak. Pada pencurian, pemerasan, pengancaman, dan kejahatan terhadap harta benda lainnya, di mana secara tegas disebutnya unsur milik orang lain bagi benda objek kejahatan, berbeda dengan penipuan di mana tidak menyebutkan secara tegas adanya unsur yang demikian. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa pada penipuan benda yang diserahkan dapat terjadi terhadap benda miliknya sendiri asalkan di dalam hal ini terkandung maksud pelaku untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Pendapat ini didasarkan pada, bahwa dalam penipuan menguntungkan diri tidak perlu menjadi kenyataan, karena dalam hal ini hanya unsur maksudnya saja yang ditujukan untuk menambah kekayaan.

b. Memberi hutang dan menghapuskan piutang :

Perkataan hutang di sini tidak sama artinya dengan hutang piutang, melainkan diartikan sebagai suatu perjanjian atau perikatan. Hoge Raad dalam suatu arrestnya (30-1-1928) menyatakan bahwa “yang dimaksud dengan hutang adalah suatu perikatan, misalnya menyetor sejumlah uang jaminan”. Oleh karena itulah memberi hutang tidak dapat diartikan sebagai memberi pinjaman uang belaka, melainkan diberi pengertian yang lebih luas sebagai membuat suatu perikatan hukum yang membawa akibat timbulnya kewajiban bagi orang lain untuk menyerahkan/membayar sejumlah uang tertentu. Misalnya dalam suatu jual beli, timbul suatu kewajiban pembeli untuk membayar/ menyerahkan sejumlah uang tertentu yakni harga benda itu kepada penjual. Demikian juga dengan istilah utang dalam kalimat menghapuskan piutang mempunyai arti suatu perikatan. Menghapuskan piutang mempunyai pengertian yang lebih luas dari sekedar membebaskan kewajiban dalam hal membayar hutang atau pinjaman uang belaka. Menghapuskan piutang adalah menghapuskan segala macam perikatan hukum yang sudah ada, di mana karenanya menghilangkan kewajiban hukum penipu untuk menyerahkan sejumlah uang tertentu pada korban atau orang lain.

3. Upaya – upaya penipuan.

a.Dengan menggunakan nama palsu (valsche naam) :

 Ada dua pengertian nama palsu. Pertama, diartikan sebagai suatu nama bukan namanya sendiri melainkan nama orang lain. Misalnya Abdurachim menggunakan nama temannya yang bernama Abdullah. Kedua, suatu nama yang tidak diketahui secara pasti pemiliknya atau tidak ada pemiliknya. Misalnya orang yang bernama Gino menggunakan nama Kempul. Nama Kempul tidak ada pemiliknya atau tidak diketahui secara pasti ada tidaknya orang yang menggunakannya. Banyak orang menggunakan suatu nama dari gabungan beberapa nama, misalnya Abdul Mukti Ahmad. Apakah menggunakan nama palsu, jika ia mengenalkan diri pada seseorang dengan nama Mukti Ahmad? Dalam hal ini kita harus berpegang pada nama yang dikenal oleh masyarakat luas. Andaikata ia dikenal di masyarakat dengan nama Abdul Mukti, maka la mengenalkan diri dengan nama Mukti Ahmad itu adalah menggunakan nama palsu. Bagaimana pula jika seseorang menggunakan nama orang lain yang sama dengan namanya sendiri, tetapi orang yang dimaksudkan itu berbeda. Misalnya seorang penjaga malam bernama Markaban mengenalkan diri sebagai seorang dosen bernama Markaban, Markaban yang terakhir benar-benar ada dan diketahuinya sebagai seorang dosen. Di sini tidak menggunakan nama palsu, akan tetapi menggunakan martabat / kedudukan palsu.

b. Menggunakan martabat/kedudukan palsu (valsche hoedanigheid) :

Ada beberapa istilah yang sering digunakan sebagai terjemahan dari perkataan valsche hoedanigheid itu, ialah: keadaan palsu, martabat palsu, sifat palsu, dan kedudukan palsu. Adapun yang dimaksud dengan kedudukan palsu itu adalah suatu kedudukan yang disebut/digunakan seseorang, kedudukan mana menciptakan/mempunyai hak-hak tertentu, padahal sesungguhnya ia tidak mempunyai hak tertentu itu. Jadi kedudukan palsu ini jauh lebih luas pengertiannya daripada sekedar mengaku mempunyai suatu jabatan tertentu, seperti dosen, jaksa, kepala, notaris, dan lain sebagainya. Sudah cukup ada kedudukan palsu misalnya seseorang mengaku seorang pewaris, yang dengan demikian menerima bagian tertentu dari boedel waris, atau sebagai seorang wali, ayah atau ibu, kuasa, dan lain sebagainya. Hoge Raad dalam suatu arrestnya (27-3-1893) menyatakan bahwa “perbuatan menggunakan kedudukan palsu adalah bersikap secara menipu terhadap orang ketiga, misalnya sebagai seorang kuasa, seorang agen, seorang wali, seorang kurator ataupun yang dimaksud untuk memperoleh keperca­ yaan sebagai seorang pedagang atau seorang pejabat”.

c. Menggunakan tipu muslihat (listige kunstgreoen) dan rangkaian kebohongan (zamenweefsel van verdichtsels) :

Kedua cara menggerakkan orang lain ini sama-sama bersifat menipu atau isinya tidak benar atau palsu, namun dapat menimbulkan kepercayaan/kesan bagi orang lain bahwa semua itu seolah-olah benar adanya. Namun ada perbedaan, yaitu: pada tipu muslihat berupa perbuatan, sedangkan pada rangkaian kebohongan berupa ucapan/perkataan. Tipu muslihat diartikan sebagai suatu perbuatan yang sedemikian rupa dan yang menimbulkan kesan atau kepercayaan tentang kebenaran perbuatan itu, yang sesungguhnya tidak benar. Karenanya orang bisa menjadi percaya dan tertarik atau tergerak hatinya. Tergerak hati orang lain itulah yang sebenarnya dituju oleh si penipu, karena dengan tergerak hatinya/terpengaruh kehendaknya itu adalah berupa sarana agar orang lain (korban) berbuat menyerahkan benda yang dimaksud.

rup�5ru�9 �r3 angkan pada rangkaian kebohongan berupa ucapan/perkataan. Tipu muslihat diartikan sebagai suatu perbuatan yang sedemikian rupa dan yang menimbulkan kesan atau kepercayaan tentang kebenaran perbuatan itu, yang sesungguhnya tidak benar. Karenanya orang bisa menjadi percaya dan tertarik atau tergerak hatinya. Tergerak hati orang lain itulah yang sebenarnya dituju oleh si penipu, karena dengan tergerak hatinya/terpengaruh kehendaknya itu adalah berupa sarana agar orang lain (korban) berbuat menyerahkan benda yang dimaksud.

Cerita ini bermula dari dua orang yang kebetulan berprofesi sebagai penipu ulung tapi tidak saling mengenal satu sama lain. Penipu ulung pertama bernama Dr. H. Irawan  dan Penipu Ulung kedua bernama H. Darmawan.  Singkat cerita Dr. H. Irawan  mengirim SMS ke H. Darmawan yang berbunyi :

“Sy Ibu Hj. Nengsih yang berminat & cocok mengenai rumah dengan tanah bpk/ibu saya telfon tapi gak tembus masalah hrg langsung hub suami sy 082346810327, Dr.H.IRAWAN.”

H. Darmawan : Bangsat orang ini, gak tahu gue juga penipu! gue tipu lo entar!!

Kemudian H. Darmawan menghubungi Dr. H. Irawan

H. Darmawan : hallo… dengan bapak Irawan?

Dr. H. Irawan : Benar…saya sendiri!!

H. Darmawan : Apakah bapak tertarik untuk membeli rumah saya?

Dr. H. Irawan : Benar bapak..saya tertarik untuk membeli rumah bapak dan saya sepakat dengan harga yang bapak tawarkan.  Mohon rumahnya bapak jangan dijual ke yang lain dulu. Ini saya mau mentransfer DP. Apakah bapak memiliki nomor rekening bank dan ATM?

H. Darmawan : ada pak..ini nomor rekening saya :021901030131505 atas nama Firman A. (salah satu nomor rekening dengan identitas palsu milik Darmawan)

Dr. H. Irawan : nanti saya hubungi bapak setelah saya transfer!!

H. Darmawan : baik pak, terima kasih!!

Satu jam kemudian Dr.H. Irawan menghubungi H. Darmawan

Dr. H. Irawan : Hallo…bapak saya sudah transfer sebesar Rp. 10 juta ke nomor rekening bapak, mohon dicek di ATM.

H. Darmawan : bangsat lo ya..mau nipu gue, gak tau gue juga pake trik ini tiap kali nipu (ngomong dalam hati). Baik pak, saya segera meluncur ke ATM!!! (Darmawan sudah tahu bahwa dana yang ditransfer tersebut tidak ada sama sekali, karena dia selalu menggunakan trik ini tiap kali nipu).

Lima menit kemudian Dr. H Irawan menghubungi H. Darmawan

Dr. H. Irawan : bagaimana pak…apakah transferan saya sudah masuk??

H. Darmawan : taik lo..dasar penipu kacangan (ngomong dalam hati). Maaf pak..transferan belum masuk (memang tidak ditransfer oleh Dr. H. Irawan).

Dr. H. Irawan : jangan gitu lo pak, bapak mau nipu saya…saya sudah transfer dana sebesar Rp. 10 juta ke rekening bapak…

Karena memang sudah hapal trik  penipuan ini yang nantinya akan dihubungkan ke customer service abal-abal, maka H. Darmawan langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya, yaitu Hipnotis. Dia menghipnotis Dr. H. Irawan dengan mengucapkan beberapa kata-kata tertentu..Sehingga Dr. H. Irawan menjadi tidak sadar…

H. Darmawan : Berapa sisa dana bapak sekarang yang ada di ATM??

Dr. H. Irawan : sebentar saya masukkan ATM dulu (kondisi tidak sadar)

Kemudian Dr. H. Irawan masukkan ATM

Dr. H. Irawan : ada 100 juta pak!!

H. Darmawan : pencet tombol tranfer!!

Dr. H. Irawan : sudah pak!

H. Darmawan : masukkan kode 002-21901030131505 dan kemudian tekan 98888777 dan kemudian tekan tombol benar dan tekan tombol ya…

Dr. H.Irawan : sudah saya lakukan (kondisi masih tak sadar, akibat terkena hipnotis Darmawan)

H. Darmawan : terima kasih pak, bapak sukses telah saya tipu!!! langsung mematikan Hpnya dan tertawa terbahak-bahak serta berkata dalam hati (rasain lo, gue tipu lo).

Dr.H. Irawan kemudian segera sadar

DR.H. Irawan : Kampret malah gue yang kena tipu!!!

Dr. H.Irawan kemudian menghubungi rekannya yang sudah dipersiapkan sebagai customer service abal-abal dan mengatakan kondisi yang dialaminya.

Customer Service Abal-Abal : goblok lo!!! masa penipu bisa kena tipu!!!

Dr. H. Irawan hanya bisa menyumpah dalam hati…